STTPuntuk makanan juga bisa digunakan dalam industri pembuatan sosis dan nugget sebagai bahan yang membantu menjaga tekstur dan kekenyalan daging olahan tersebut. Caranya adalah dengan mencampurkan STTP pada daging saat hendak digiling dengan takaran 0,25 hingga 0.5 persen dari total berat adonan. PenggunaanSTPP sampai sekarang tidak dilarang oleh Departemen Kesehatan RI. tambahan pada berbagai macam produk antara lain kerupuk, biskuit/kue kering, jajanan/kue tradisional, misalnya Morfindigunakan untuk penghilang rasa sakit penderita kanker ProsidingSeminar Nasional STPP Malang "Penyiapan Generasi Muda Pertanian Perdesaan Menuju Indonesia Sebagai Lumbung Pangan Dunia", - (-). ISSN 978-602-61726-- Bestari, Salsabila Ayu and Mulyatno Setiawan, Bambang and Ekowati, Titik (2017) ANALISIS KELAYAKAN FINANSIAL USAHATANI BUNGA KRISAN DI DAUN HIJAU NURSERY KECAMATAN BANDUNGAN KABUPATEN Krupukpuli (krupuk nasi) Memanfaatkan nasi Dari pada mubazir daripada kebuang percuma, carinya susah. nasinya biar awet dijadikan krupuk aja za 😄. Diresep ini untuk takaran tepung tergantung kelembapan nasi kalo terlalu berair biasanya lebih banyak tepung tapioka sampai 500gr /lebih dekit.Klo tidak ada blender nasinya bisa ditumbuk,beri Z6dIu6. Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Masyarakat pelaku usaha kerupuk tentu mengenal dengan bahan komposisi Bleng untuk dijadikan bahan pengawet. Banyak pelaku usaha kerupuk menggunakan Bleng untuk mengawetkan produk kerupuknya. Sayangnya, hampir sebagian besar pelaku usaha kerupuk tidak mengetahui bahwa Bleng merupakan komposisi yang termasuk dalam golongan boraks dalam berbagai macam aneka makanan menjadi perhatian tersendiri bagi Dinas Kesehatan yang juga selaku penggerak hidup sehat untuk Indonesia. Campuran Boraks dalam makanan tentunya dapat menggangu fungsi organ tubuh dan pada akhirnya berpengaruh bagi substitusi bahan baku Bleng sebagai pengawet kerupuk diganti menjadi STPP Sodium Tripolyphosphate. Peraturan tersebut telah dibukukan oleh Dinas Kesehatan agar kualitas dan mutu kerupuk aman dikonsumsi bagi masyarakat. Mencari STPP untuk pengganti boraks pada kerupuk/dokpri STPP adalah bahan kimia yang terbentuk dari anion-anion phospat dalam Sodium riphospat sebagai hasil reaksi dari disodium fosfat dan monosodium fosfat. Pada industri kerupuk, STPP dicampurkan ke dalam adonan setengah jadi untuk membantu menjaga struktur krupuk tidak mudah rapuh sewaktu karena itu kelompok KKN 323 bekerja sama dengan Dinas Kesehatan untuk melakukan penyuluhan terhadap pelaku usaha kerupuk demi menjaga kualitas dan mutu kerupuk sekaligus menggalakan pembuatan PIRT untuk segmentasi pasar yang lebih luas. Penyuluhan itu akan diadakan pekan depan di Balai Desa Paguan dengan sasaran adalah pelaku usaha pangan Desa Paguan terutama pelaku usaha Kerupuk.Nona Maharani Nenhea Elier/Cynthia Rani/Marwa Herman Daud/Ahmad Dhani Prasetyo/Whinar Kukuh Rizky Ardana/Finisa Fabira/Muhammad Alif Fiandra/Senopati Lanang Jagad/Athanasius Marchellino Pandu Waluyo/Sirwi Nindia/KKN 323/ Desa Paguan/Kec. Taman Krocok/Ir. Setiyono, Lihat Ilmu Sosbud Selengkapnya AbstractKerupuk gendar merupakan kerupuk yang dikenal dan disukai di Jawa Tengah. Sayangnya, kerupuk ini dibuat dengan campuran bahan penjendal yang berbahaya bagi kesehatan yaitu bleng. Kurangnya informasi dan tanggung jawab mengakibatkan penggunaan bahan tersebut tetap dilakukan pedagang. Padahal, pemerintah telah melarang penggunaan bleng sejak tahun 1979. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mencari pengganti bleng untuk kerupuk gendar tersebut. Pengganti bleng yang digunakan adalah STPP Sodium tripolifosfat dan ekstrak cincau karena keduanya mampu mengikat air dengan baik dan sudah dikenal oleh masyarakat. Dalam penelitian ini digunakan tiga konsentrasi STPP 0,1%, 0,2%, dan 0,3% dan dua konsentrasi ekstrak cincau 25% dan 50%. Variabel yang diuji meliputi pengukuran kadar air, kadar abu tanpa garam, kadar lemak, hardness, springiness, cohesiveness, break strength, persentase pengembangan, uji beda terhadap kontrol, dan uji ranking hedonik. Dari hasil penelitian didapatkan, kadar air kerupuk mentah tertinggi adalah kerupuk cincau 25% 9,76% dan kadar air kerupuk setelah digoreng tertinggi adalah kontrol 2,75%. Kadar abu tanpa garam tertinggi pada kerupuk mentah dan setelah digoreng adalah kerupuk cincau 50% 3,23% dan 3,03%. Kadar lemak tertinggi pada kerupuk mentah dan setelah digoreng adalah kerupuk cincau 50% 1,79% dan 28,49%. Hardness tertinggi pada adonan kerupuk adalah adonan cincau 25% 619,58gf, dan springiness serta cohesiveness tertinggi adalah pada adonan kontrol 11,88mm dan 0,29. Break strength tertinggi pada kerupuk mentah dan setelah digoreng adalah kerupuk kontrol 710,34gf dan 820,58gf serta persentase pengembangan terbesar adalah juga pada kerupuk kontrol 158,14%. Hasil uji beda terhadap kontrol menunjukkan tidak ada beda nyata antar keenam sampel kerupuk. Hasil uji ranking hedonik menunjukkan bahwa kerupuk STPP 0,2% mempunyai skor yang tertinggi dari semua parameter yang diujikan, meliputi warna, rasa, kenampakan, kerenyahan, dan overall. Hasil uji fisikokimia dan sensoris menunjukkan bahwa STPP dan ekstrak cincau potensial menggantikan bleng. Akan tetapi, hasil terbaik diperoleh dari kerupuk gendar dengan penambahan STPP 0,2%ThesisNonPeerReviewed664 Food technologySimilar works Kerupuk ikan dengan penambahan rumput laut merupakan salah satu inovasi dalam menambah nilai gizi kerupuk. Rumput laut menambah kadar serat pada kerupuk namun menghambat daya mekar kerupuk. STTP sodium tripolipospat adalah alkali fosfat yang mampu menambah daya mekar kerupuk. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui formulasi terbaik dalam mendapatkan kemekaran dan tekstur kerupuk ikan serta persentase tertinggi kemekaran kerupuk ikan. Desain percobaan dengan Rancangan Acak Lengkap RAL. Perbedaan konsentrasi menggunakan STPP 0%; 0,1%; 0,3% dan 0,5% dilakukan 3 kali pengulangan. Data analisis menggunakan ANOVA, dilanjutkan dengan uji BNJ untuk parametrik sedangkan Kruskal-Wallis dan Mann Whitney untuk data non parametrik. Kerupuk dengan penambahan STPP memiliki kemekaran linier tertinggi yaitu 52,39±2,15 cm² atau 316%, kerenyahan tertinggi yaitu 1305,39±72,5 gf, kadar air terendah yaitu 10,78±0,20%, kadar protein tertinggi 5,92±0,07%, kadar serat kasar tertinggi yaitu 6,35±0,34%, kadar lemak tertinggi yaitu 0,62±0,23%, dan tingkat kesukaan kerupuk ikan terbaik yaitu 7,441 This study aimed to find out the effect of the combination of Sodium Tripolyphosphate STPP and stirring time on physical and chemical characteristics of the produced suweg starch. A factorial completely randomized design CRD was used in this study. The study was conducted using 2 treatment factors, namely the addition of Sodium Tripolyphosphate STPP concentrations in 1% and 2% level and stirring time for 30 minutes and 60 minutes. The research method use 2 factorial Randomized Block Design RBD. The data obtained was performed by ANOVA statistical tests and if the result significantly different it would be followed by the Duncan Multiple Range Test at a 5% confidence level. The results showed the effect of the combination of Sodium Tripolyphosphate STPP and stirring time on the physical and chemical characteristics of the resulting suweg starch compared to the control suweg starch in the form of an increase in the value of brightness, amylopectin content and solubility, while the value of redness a*, yellowness b*, water content, amylose content, and swelling power decreased

takaran penggunaan stpp untuk kerupuk